Memilihmu
Kepada sebuah nama. Ketika kamu membaca tulisan ini, aku rasa jantungku akan lebih kuat berdetak. Mungkin kamu pun akan setengah berdecak. Atau mungkin, kedekatan kita akan mulai berjarak. Aku masih mengingat jelas saat percakapan awal kita untuk pertama kalinya terjadi. Percakapan awal yang akhirnya berlanjut hangat, hingga kita tak sadar telah begitu lekat.. Hingga kita memutuskan untuk membuat sebuah kisaah dongeng baru bak cindera dan pangeran.
Hingga belakangan ini aku selalu menantikan hari bertemu denganmu. Bagiku itu adalah impian yang tak jemu-jemu aku rapalkan dalam doa, dan semoga saja semesta mendengar dan syukur-syukur ikut mengamininya, aku selalu menunggu saat duniamu sedikit senggang agar sempat menemuiku. Aku terus menghitung kemungkinan peluang untuk bertemu,😁
Ketika kita memutuskan untuk menciptakan dongeng baru. Kita sama-sama tahu bahwa tak bisa leluasa hang out bareng seperti pasangan yang lainnya. Terkadang aku harus terlihat baik-baik saja agar kamu tak khawatir ketika aku meradang rindu. Ya,,, aku masih gadis belia umur 20-an yang terkadang tak bisa melawan apa kata hatiku sendiri. Namun aku tahu kamu sudah dewasa, duniamu bukan soal mengurusi aku yang masih labil ini. Masih ada keluarga, sahabat, pendidikan, pekerjaan, dan seambrek target yang harus kamu selesaikan. Begitu banyak yang bergantung pada pundakmu dan aku tidak ingin menjadi penghalang masa depanmu. Aku yang harusnya berusaha agar bisa berjalan beriringan denganmu dalam jarak yang jauh.
Dan untukmu laki laki yang berjarak 535km dari titik ku berdiri, aku membuat tulisan ini agar kamu tahu Bahwa hati telah memilihmu. Aku memilihmu atas apasaja risiko yang akan ku hadapi nanti. Aku memilihmu karena aku percaya. Rasa tak pernah salah dalam mengeja. Meski ia akan selalu benar dalam perhitungan luka. Tak apa. Bagiku memilihmu selalu mampu memulihkan. Kau obat-obatan di atas angin di sudut hati, walau kadang, tak jarang kau juga sebab rindu memagut sepi.Memilihmu adalah hal yang ingin ku kenang sebagai keputusan terbaik. Meskipun akhirnya, aku bisa melakukan hal-hal yang baik. Tak apa. Memilihmu akan selalu menyenangkan.
Jika akhirnya apa yang aku pilih tak juga membuat pulih. Dan aku akan tetap tersenyum meski perih. Setidak aku bahagia, pernah mencintaimu, dan pernah memilihmu. Meski tak memulihkanku.
#Tuan Aksara
Kepada sebuah nama. Ketika kamu membaca tulisan ini, aku rasa jantungku akan lebih kuat berdetak. Mungkin kamu pun akan setengah berdecak. Atau mungkin, kedekatan kita akan mulai berjarak. Aku masih mengingat jelas saat percakapan awal kita untuk pertama kalinya terjadi. Percakapan awal yang akhirnya berlanjut hangat, hingga kita tak sadar telah begitu lekat.. Hingga kita memutuskan untuk membuat sebuah kisaah dongeng baru bak cindera dan pangeran.
Hingga belakangan ini aku selalu menantikan hari bertemu denganmu. Bagiku itu adalah impian yang tak jemu-jemu aku rapalkan dalam doa, dan semoga saja semesta mendengar dan syukur-syukur ikut mengamininya, aku selalu menunggu saat duniamu sedikit senggang agar sempat menemuiku. Aku terus menghitung kemungkinan peluang untuk bertemu,😁
Ketika kita memutuskan untuk menciptakan dongeng baru. Kita sama-sama tahu bahwa tak bisa leluasa hang out bareng seperti pasangan yang lainnya. Terkadang aku harus terlihat baik-baik saja agar kamu tak khawatir ketika aku meradang rindu. Ya,,, aku masih gadis belia umur 20-an yang terkadang tak bisa melawan apa kata hatiku sendiri. Namun aku tahu kamu sudah dewasa, duniamu bukan soal mengurusi aku yang masih labil ini. Masih ada keluarga, sahabat, pendidikan, pekerjaan, dan seambrek target yang harus kamu selesaikan. Begitu banyak yang bergantung pada pundakmu dan aku tidak ingin menjadi penghalang masa depanmu. Aku yang harusnya berusaha agar bisa berjalan beriringan denganmu dalam jarak yang jauh.
Dan untukmu laki laki yang berjarak 535km dari titik ku berdiri, aku membuat tulisan ini agar kamu tahu Bahwa hati telah memilihmu. Aku memilihmu atas apasaja risiko yang akan ku hadapi nanti. Aku memilihmu karena aku percaya. Rasa tak pernah salah dalam mengeja. Meski ia akan selalu benar dalam perhitungan luka. Tak apa. Bagiku memilihmu selalu mampu memulihkan. Kau obat-obatan di atas angin di sudut hati, walau kadang, tak jarang kau juga sebab rindu memagut sepi.Memilihmu adalah hal yang ingin ku kenang sebagai keputusan terbaik. Meskipun akhirnya, aku bisa melakukan hal-hal yang baik. Tak apa. Memilihmu akan selalu menyenangkan.
Jika akhirnya apa yang aku pilih tak juga membuat pulih. Dan aku akan tetap tersenyum meski perih. Setidak aku bahagia, pernah mencintaimu, dan pernah memilihmu. Meski tak memulihkanku.
#Tuan Aksara

Comments
Post a Comment