Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

Sebuah titik balik

H EI….. Kau hanya akan tertolong saat lukamu robek di bagian vena … berhentilah menatap harap kesana. Sebab pintu kamar mu ta’akan penah terbuka   oleh manusia, bila lukamu itu tak kasat mata. Silahkan cerita kepada dunia Sekali, dua, tiga. Boom ……. Obat tak ada dan kau divonis tak berguna. Lalu kini kau bertanya-tanya mengapa aku berbeda. Aku lebih sekarat tapi kenapa tak pernah ada yang percaya; bahwa   “ aku sangat butuh dirawat?” Peluk lututmu… himpit kepalamu… Kematian akan sedikit memakakan telinga dikepalamu, lalu di sekitarmu, Ya, Berbisik sendu “ Mengapa harus aku”   Kemudian kau kebingungan mengira sebuah cubitan akan membangunkan. Lalu kau kesepian, lalu kau kedinginan, lalu kau ketakutan,   Oh tidak ini kenyataan. . . . Tiba-tiba kau putar memori untuk tahu siapa yang harus dihubungi. Menagih janiji-janji yang berisi takan pernah meninggalkanmu sendiri. Tapi… Boom….. Semua menjadi ilusi . Katakan…. Apa kau sekarang be...

Tertikam Cintaku

  S epucuk saja padahal rasanya cukup. Usahlah tuan tebar rasa. menyeluruh untuk hasrat yang telah bergemuruh. Nanti Tuan lelah… Nanti saya patah. Saya berada di antara luka dan sajak. Memangku pasak enggan menimbul gerak. Tapi andai saya rindu Tuan, adakah tuan serupa ? atau jangan janngan rimba hati tuan telah tandus dan berganti warna ? Bisik lembut semilir senja menyapu mesra. Mengisah juang tentang malam yang melahap terang. Tentang rasa tuan yang bertabur bimbang atau milik saya yang tak kunjung lekang? Tapi waktu terus saja angkuh menggilas segala cerita, Ia berjalan dan terus mengikis milik kita, Kembang kempis jadinya paru-paru saya. Meratap dan terus memohin sehidup setia. Lalu tuan malah hilang rasa…. Kedap kedip saya tidak percaya. Apa yang menyembuhkan saya akhirnya malah membunuh saya. Saat ku singkap hati, Tuan malah lari. Saat ku pungut puing-puing rasa tuan malah menikam penuh lara. Aral saya dibayang-bayang bimbang tuan. Melangkah tak bis...

ILUSI

S ebaik baiknya perpisahan selalu meninggalkan alasan. Dan sebaik baiknya kepergian   adalah tidak pernah di lakukan. . . Aku sedang berdiskusi bersama waktu di malam ini. Aku bertanya bagaimana seharusnya aku menyikapi? Bagaimana menyatukan kehendak hati dan kenyataan yang begitu teramat menyakiti? Namun yang   terdengar hanya sunyi… penapilanku   stiap bangun tidur benar-benar hancur, Tatapan blur, wajah lebam dipenuhi   bilur, kesakitan dari dalam mulai menguasai alur, dan ruhku,   memberontak seakan ingin kabur… Aku ingin hilang ingatan.   Aku lelah berpura-pura tidak merasakan, Aku ingin kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kenyataan. Namun semakin aku meneriakan aku semakin tenggelam di dalam penderitaan. Kemana perginya malaikat??? Di dalam jiwaku terlihat iblis tertawa bahagia menyayat-nyayat untuk segera menjadikan ku   mayat. Tuhan,….. Mengapa kenyataan ini begitu menyengat?? Mengapa beban ini begitu hebat? ...