Skip to main content

Sebuah titik balik

Hasil gambar untuk luka tanpa suara


HEI…..
Kau hanya akan tertolong saat lukamu robek di bagian vena … berhentilah menatap harap kesana. Sebab pintu kamar mu ta’akan penah terbuka  oleh manusia, bila lukamu itu tak kasat mata.
Silahkan cerita kepada dunia
Sekali, dua, tiga.
Boom …….
Obat tak ada dan kau divonis tak berguna.
Lalu kini kau bertanya-tanya mengapa aku berbeda. Aku lebih sekarat tapi kenapa tak pernah ada yang percaya; bahwa  aku sangat butuh dirawat?”
Peluk lututmu… himpit kepalamu… Kematian akan sedikit memakakan telinga dikepalamu, lalu di sekitarmu, Ya, Berbisik sendu
Mengapa harus aku” 
Kemudian kau kebingungan mengira sebuah cubitan akan membangunkan.
Lalu kau kesepian, lalu kau kedinginan, lalu kau ketakutan, 
Oh tidak ini kenyataan. . . .
Tiba-tiba kau putar memori untuk tahu siapa yang harus dihubungi. Menagih janiji-janji yang berisi takan pernah meninggalkanmu sendiri.
Tapi…
Boom…..
Semua menjadi ilusi .
Katakan….
Apa kau sekarang benar-benar ingin bisa tertidur saja? Ingin bisa memejamkan mata saja? Dengan tenang? Dengan gampang? Lalu  meyakini esok matahari akan sedikit lebih terang? Dan akhirnya kau merasa senang. Mengira seseorang akan benar-benar membawamu pulang.
Bersikaplah baik. Pakailah sendiri belenggu yang mencekik. Aura ibu  sedang bolak balik. Ayah bahkan lebih dulu menuliskan titik.
Semua dinding berupa jeruji sayang…
Kau takan pernah berganti ruang. Kau hanya berganti mata uang. Usang, terkekang, menunggu saat yang tepat unutk benar-benar lepas dan terbuanng.
Bukan sulap bukan sihir ..
Boom….
Lingkar matamu tiba-tiba legam membiru, hatimu beku, mimpimu buntu. Orang-orang lelah menghadapimu dan..
Tungu….
Apa….?!
Bahkan dirimu? !
Di akhir cerita kau hanya bertanya “dimana letak salahku?” “Apa dosaku?” atau sekedar memaku pasak di balik kerumunan yang semakin menipu.
Kita sedang dibentuk”
ujar hati
“Berhentilah mengutuk apa yang tidak kau sadari”
Lalu kita terasingkan dan dibiarkan kotor sekali. Sebab itulah kini kau  berada ditik balik untuk segera dicuci.   


Comments

Popular posts from this blog

Mimpi itu lagi

Pagi ini sebelum seambrek aktivitas ku lalui, ku ingin buka hariku dengan sedikit bercerita... Pagi ini kurasa langit-langit kamarku terasa sendu,, tak seperti biasaa. Kini nampak terasa dingin dan gelap. Ku buka kedua kelopak mataku  pagi ini dengan mata sembab dan tersisa genangan air mata di pipi entah itu air mata bahagia atau sebaliknya.. Ahhh aku tau ternyata aku memimpikanmu lagi... Lagi dan lagi... Mimpi terindah itu masih terbayang-bayang setelah sekian jam,detik dan hari aku terbangun, dan terus membuatku melengkungkan bibirku  dengan beberapa air mata yang menemani bila ingat pertemuan kita kala itu , terima kasih telah sudi mampir di alam itu bersamaku Dari aku yang mencintaimu.

ILUSI

S ebaik baiknya perpisahan selalu meninggalkan alasan. Dan sebaik baiknya kepergian   adalah tidak pernah di lakukan. . . Aku sedang berdiskusi bersama waktu di malam ini. Aku bertanya bagaimana seharusnya aku menyikapi? Bagaimana menyatukan kehendak hati dan kenyataan yang begitu teramat menyakiti? Namun yang   terdengar hanya sunyi… penapilanku   stiap bangun tidur benar-benar hancur, Tatapan blur, wajah lebam dipenuhi   bilur, kesakitan dari dalam mulai menguasai alur, dan ruhku,   memberontak seakan ingin kabur… Aku ingin hilang ingatan.   Aku lelah berpura-pura tidak merasakan, Aku ingin kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kenyataan. Namun semakin aku meneriakan aku semakin tenggelam di dalam penderitaan. Kemana perginya malaikat??? Di dalam jiwaku terlihat iblis tertawa bahagia menyayat-nyayat untuk segera menjadikan ku   mayat. Tuhan,….. Mengapa kenyataan ini begitu menyengat?? Mengapa beban ini begitu hebat? ...