
HEI…..
Kau hanya akan
tertolong saat lukamu robek di bagian vena … berhentilah menatap harap kesana. Sebab
pintu kamar mu ta’akan penah terbuka
oleh manusia, bila lukamu itu tak kasat mata.
Silahkan cerita
kepada dunia
Sekali, dua, tiga.
Boom …….
Obat tak ada dan kau
divonis tak berguna.
Lalu kini kau
bertanya-tanya mengapa aku berbeda. Aku lebih sekarat tapi kenapa tak pernah
ada yang percaya; bahwa “aku sangat butuh dirawat?”
Peluk lututmu…
himpit kepalamu… Kematian akan sedikit memakakan telinga dikepalamu, lalu di
sekitarmu, Ya, Berbisik sendu
“Mengapa harus aku”
Kemudian kau
kebingungan mengira sebuah cubitan akan membangunkan.
Lalu kau kesepian,
lalu kau kedinginan, lalu kau ketakutan,
Oh tidak ini
kenyataan. . . .
Tiba-tiba kau putar
memori untuk tahu siapa yang harus dihubungi. Menagih janiji-janji yang berisi
takan pernah meninggalkanmu sendiri.
Tapi…
Boom…..
Semua menjadi ilusi
.
Katakan….
Apa kau sekarang benar-benar
ingin bisa tertidur saja? Ingin bisa memejamkan mata saja? Dengan tenang? Dengan
gampang? Lalu meyakini esok matahari
akan sedikit lebih terang? Dan akhirnya kau merasa senang. Mengira seseorang
akan benar-benar membawamu pulang.
Bersikaplah baik. Pakailah
sendiri belenggu yang mencekik. Aura ibu sedang bolak balik. Ayah bahkan lebih dulu
menuliskan titik.
Semua dinding berupa
jeruji sayang…
Kau takan pernah
berganti ruang. Kau hanya berganti mata uang. Usang, terkekang, menunggu saat
yang tepat unutk benar-benar lepas dan terbuanng.
Bukan sulap bukan
sihir ..
Boom….
Lingkar matamu
tiba-tiba legam membiru, hatimu beku, mimpimu buntu. Orang-orang lelah
menghadapimu dan..
Tungu….
Apa….?!
Bahkan dirimu? !
Di akhir cerita kau
hanya bertanya “dimana letak salahku?” “Apa dosaku?” atau sekedar memaku pasak
di balik kerumunan yang semakin menipu.
“Kita sedang dibentuk”
ujar hati
“Berhentilah mengutuk
apa yang tidak kau sadari”
Lalu kita
terasingkan dan dibiarkan kotor sekali. Sebab itulah kini kau berada ditik balik untuk segera dicuci.
Comments
Post a Comment