Skip to main content

Tertikam Cintaku


 Hasil gambar untuk tertikam cinta
Sepucuk saja padahal rasanya cukup. Usahlah tuan tebar rasa.
menyeluruh untuk hasrat yang telah bergemuruh.
Nanti Tuan lelah…
Nanti saya patah.
Saya berada di antara luka dan sajak. Memangku pasak enggan menimbul gerak. Tapi andai saya rindu Tuan, adakah tuan serupa ? atau jangan janngan rimba hati tuan telah tandus dan berganti warna ?
Bisik lembut semilir senja menyapu mesra. Mengisah juang tentang malam yang melahap terang. Tentang rasa tuan yang bertabur bimbang atau milik saya yang tak kunjung lekang?
Tapi waktu terus saja angkuh menggilas segala cerita, Ia berjalan dan terus mengikis milik kita, Kembang kempis jadinya paru-paru saya. Meratap dan terus memohin sehidup setia.
Lalu tuan malah hilang rasa….
Kedap kedip saya tidak percaya. Apa yang menyembuhkan saya akhirnya malah membunuh saya.
Saat ku singkap hati, Tuan malah lari.
Saat ku pungut puing-puing rasa tuan malah menikam penuh lara.
Aral saya dibayang-bayang bimbang tuan. Melangkah tak bisa,  Melepas tak rela.
Sungguh petaka bila sesuatu berubah tiba tiba entah keadaan  atau para pelakunya. Entah rindu atau rasa dari hatinya. Macam tuan dan cinta piatu saya.
Mengapa tuan tak kunjung percaya?,
Pada saya yang tegak dibelakang tuan. Atau pada rasa yang telah sudi memilih jatuh dipelukan tuan.
Saya plihara rasa untuk tuan dengan taruhan NYAWA. Saya dekap mesra stiap racun-racun yang dikeluarkanya.
Meratap, memohon, menghinakan kepala, hingga saya mampu jatuh dengan segala kerelaaan dengan sepucuk senyuman.
Tapi kemudian malah tuan ludahi saya dengan acuh seolah saya bukan manusia. Seolah saya kebal akan luka, Seolah  suara saya tidak akan habis oleh jerit angkara. Seolah saya memiliki dua nyawa, Seolah saya binatang, hina yang tak sudi Tuan raba.
Dosa besarkah saya mencintai Tuan?
Sampai-sampai berharap kini rasanya sangat gelap.



Comments

Popular posts from this blog

Mimpi itu lagi

Pagi ini sebelum seambrek aktivitas ku lalui, ku ingin buka hariku dengan sedikit bercerita... Pagi ini kurasa langit-langit kamarku terasa sendu,, tak seperti biasaa. Kini nampak terasa dingin dan gelap. Ku buka kedua kelopak mataku  pagi ini dengan mata sembab dan tersisa genangan air mata di pipi entah itu air mata bahagia atau sebaliknya.. Ahhh aku tau ternyata aku memimpikanmu lagi... Lagi dan lagi... Mimpi terindah itu masih terbayang-bayang setelah sekian jam,detik dan hari aku terbangun, dan terus membuatku melengkungkan bibirku  dengan beberapa air mata yang menemani bila ingat pertemuan kita kala itu , terima kasih telah sudi mampir di alam itu bersamaku Dari aku yang mencintaimu.

ILUSI

S ebaik baiknya perpisahan selalu meninggalkan alasan. Dan sebaik baiknya kepergian   adalah tidak pernah di lakukan. . . Aku sedang berdiskusi bersama waktu di malam ini. Aku bertanya bagaimana seharusnya aku menyikapi? Bagaimana menyatukan kehendak hati dan kenyataan yang begitu teramat menyakiti? Namun yang   terdengar hanya sunyi… penapilanku   stiap bangun tidur benar-benar hancur, Tatapan blur, wajah lebam dipenuhi   bilur, kesakitan dari dalam mulai menguasai alur, dan ruhku,   memberontak seakan ingin kabur… Aku ingin hilang ingatan.   Aku lelah berpura-pura tidak merasakan, Aku ingin kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kenyataan. Namun semakin aku meneriakan aku semakin tenggelam di dalam penderitaan. Kemana perginya malaikat??? Di dalam jiwaku terlihat iblis tertawa bahagia menyayat-nyayat untuk segera menjadikan ku   mayat. Tuhan,….. Mengapa kenyataan ini begitu menyengat?? Mengapa beban ini begitu hebat? ...