
Sepucuk saja padahal rasanya cukup. Usahlah tuan
tebar rasa.
menyeluruh
untuk hasrat yang telah bergemuruh.
Nanti
Tuan lelah…
Nanti
saya patah.
Saya
berada di antara luka dan sajak. Memangku pasak enggan menimbul gerak. Tapi andai
saya rindu Tuan, adakah tuan serupa ? atau jangan janngan rimba hati tuan telah
tandus dan berganti warna ?
Bisik
lembut semilir senja menyapu mesra. Mengisah juang tentang malam yang melahap
terang. Tentang rasa tuan yang bertabur bimbang atau milik saya yang tak
kunjung lekang?
Tapi
waktu terus saja angkuh menggilas segala cerita, Ia berjalan dan terus mengikis
milik kita, Kembang kempis jadinya paru-paru saya. Meratap dan terus memohin
sehidup setia.
Lalu
tuan malah hilang rasa….
Kedap
kedip saya tidak percaya. Apa yang menyembuhkan saya akhirnya malah membunuh
saya.
Saat
ku singkap hati, Tuan malah lari.
Saat
ku pungut puing-puing rasa tuan malah menikam penuh lara.
Aral
saya dibayang-bayang bimbang tuan. Melangkah tak bisa, Melepas tak rela.
Sungguh
petaka bila sesuatu berubah tiba tiba entah keadaan atau para pelakunya. Entah rindu atau rasa
dari hatinya. Macam tuan dan cinta piatu saya.
Mengapa
tuan tak kunjung percaya?,
Pada
saya yang tegak dibelakang tuan. Atau pada rasa yang telah sudi memilih jatuh
dipelukan tuan.
Saya
plihara rasa untuk tuan dengan taruhan NYAWA.
Saya dekap mesra stiap racun-racun yang dikeluarkanya.
Meratap,
memohon, menghinakan kepala, hingga saya mampu jatuh dengan segala kerelaaan
dengan sepucuk senyuman.
Tapi
kemudian malah tuan ludahi saya dengan acuh seolah saya bukan manusia. Seolah saya
kebal akan luka, Seolah suara saya tidak
akan habis oleh jerit angkara. Seolah saya memiliki dua nyawa, Seolah saya
binatang, hina yang tak sudi Tuan raba.
Dosa
besarkah saya mencintai Tuan?
Sampai-sampai
berharap kini rasanya sangat gelap.
Comments
Post a Comment