Selamat pagi, Kesayanganku. :)”
Biasanya aku akan langsung menyapamu melalui pesan singkat di pagi hari, tepat sesaat setelah membuka mata bahkan saat tubuhku masih berlindung di bawah nyaman dan hangatnya selimut. Namun pagi itu, jariku membeku. Tak bisa kuketikkan apa-apa untukmu. Pesan darimu pun tak kutemukan di layar ponselku. Walau kita sama-sama tahu, siapa yang selalu ada di pikiran kita setiap kita pertama kali membuka mata.
Sebenarnya bukan aku tak ingin mengirimkan ucapan selamat pagi kepadamu. Hanya saja sisa kecewa dan rasa kesal dalam dada membuat jariku kaku. Aku masih mencerna pertengkaran kita semalam. Betapa kau sangat dibutakan oleh emosi dan beberapa lama kemudian justru yang kutemukan pesan kelanjutan emosimu yang belum jua mereda.
"Malam tadi tidak ada kita, yang ada hanya aku , kamu yang menbeku dalam ruang yang dingin"
Betapa kamu bgtu bersemangat mencela, dan kita saling menyambar kesempatan untuk menyudutkan .
Kita lupa bahwa pertengkaran kita takan pernah menghasilkan pemenang.
Dinding ruang yang bisu menjadi saksi betapa kita saling merasa diri paling benar. Kita lupa betapa kita sebenarnya saling mencinta. Lupa bahwa ‘paling benar’ dan ‘paling salah’ jadi hal yang tak relevan ketika kita sepakat menjadi ‘kita’. Sekilas aku bernostalgia. Betapa dulu kita saling mengalah, tidak merasa perlu mendebatkan siapa yang salah, dan memilih diam sebagai penyelesaian.
Betapa kamu bgtu bersemangat mencela, dan kita saling menyambar kesempatan untuk menyudutkan .
Kita lupa bahwa pertengkaran kita takan pernah menghasilkan pemenang.
Dinding ruang yang bisu menjadi saksi betapa kita saling merasa diri paling benar. Kita lupa betapa kita sebenarnya saling mencinta. Lupa bahwa ‘paling benar’ dan ‘paling salah’ jadi hal yang tak relevan ketika kita sepakat menjadi ‘kita’. Sekilas aku bernostalgia. Betapa dulu kita saling mengalah, tidak merasa perlu mendebatkan siapa yang salah, dan memilih diam sebagai penyelesaian.
Semalam aku merasa seperti dilemparkan ke tempat asing. Yang ada hanya dirimu, dengan wajah yang tak ramah dan kata-kata mengandung marah. Aku pun merasa tak aman, merasa tak nyaman, tak tahu bagaimana harus membela diri kecuali dengan menangis. Sementara kau terus menumpahkan kalimat yang tanpa peduli jika itu terdengar menyakiti.
Mungkinkita masih perlu banyak belajar. Belajar mengungkapkan perasaan dengan kepala dingin. Belajar mengingat bahwa menyakiti yang lain adalah tindakan masokistis karena itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Walaupun kita sedang berseberangan dan berada di dua kubu yang berbeda, tidak seharusnya kita membiarkan emosi memegang kendali.
Selain itu berargumen yang tidak menyertakan emosi juga sebenarnya bisa membuat kita menyadari manfaat dari komunikasi yang baik. Kita bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing untuk mendengarkan dan didengarkan. Bukankah komunikasi adalah kunci keberhasilan suatu hubungan? Bukan kah bgitu??? Kita bisa lebih merassa nyaman mengungkapkan fikran tanpa harus menyakiti dengan menyertakan emosi.
Ah mngkin ekan sdikit kuredam amarahku... Atau bahkan ku lenyapkan. . .
#hay sygku
#aku_
Mungkinkita masih perlu banyak belajar. Belajar mengungkapkan perasaan dengan kepala dingin. Belajar mengingat bahwa menyakiti yang lain adalah tindakan masokistis karena itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Walaupun kita sedang berseberangan dan berada di dua kubu yang berbeda, tidak seharusnya kita membiarkan emosi memegang kendali.
Selain itu berargumen yang tidak menyertakan emosi juga sebenarnya bisa membuat kita menyadari manfaat dari komunikasi yang baik. Kita bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing untuk mendengarkan dan didengarkan. Bukankah komunikasi adalah kunci keberhasilan suatu hubungan? Bukan kah bgitu??? Kita bisa lebih merassa nyaman mengungkapkan fikran tanpa harus menyakiti dengan menyertakan emosi.
Ah mngkin ekan sdikit kuredam amarahku... Atau bahkan ku lenyapkan. . .
#hay sygku
#aku_
Comments
Post a Comment