Skip to main content

Sekarat



Aku hanya ingin sembuh.
Aku hanya ingin kembali utuh.
Aku  hanya ingin kembali tertawa tanpa mengeluh.
Tapi semua inginku hanya kembali membuatku jatuh.
Aku ingin bernafas tanpa harus merasakan sakit yang menyengat.
Aku ingin melihat tanpa perlu menjadikanya beban yang berat.
Aku ingin memeluk erat tanpa perlu merasa tersayat.
Tapi aku sendiri setangah hidup atau setengah mati.
Waktu tidak mau berhenti dan dunia tetap tidak mau mengerti.
Disini aku berdiri menciptakan bahagiaku sendiri.
Dalam ilusi, dalam imajinasi
Mengelabui luka hati dengan tarian ironi di atas lantai dansa elegi
bermesra dalam halusinasi, menjerit dalam sepi , memohon dalam sunyi
lalu terjatuh dan menangis lagi
dan Hidung ku berdarah  lagi.
Kesakitan dari dalam terlalu menguasai diri 
aku kehilangan gravitasi  hingga serasa ragaku akan  lunglai terjatuh membentur bumi .
Aku sekarat semuanya terasa berat
Hatiku berkarat lukaku pekat
Dan aku takut semuanya terlambat.
Dan sedari awal harusnya aku sadar.

#Aku_tak _ingin_ memelukmu
#sebab  aku takut
#karna bagian terberat dari semua ini adalah meninggalkanmu
# Cinta adalah ketakutakan yang kau tanamkan di diriku


Comments

Popular posts from this blog

Mimpi itu lagi

Pagi ini sebelum seambrek aktivitas ku lalui, ku ingin buka hariku dengan sedikit bercerita... Pagi ini kurasa langit-langit kamarku terasa sendu,, tak seperti biasaa. Kini nampak terasa dingin dan gelap. Ku buka kedua kelopak mataku  pagi ini dengan mata sembab dan tersisa genangan air mata di pipi entah itu air mata bahagia atau sebaliknya.. Ahhh aku tau ternyata aku memimpikanmu lagi... Lagi dan lagi... Mimpi terindah itu masih terbayang-bayang setelah sekian jam,detik dan hari aku terbangun, dan terus membuatku melengkungkan bibirku  dengan beberapa air mata yang menemani bila ingat pertemuan kita kala itu , terima kasih telah sudi mampir di alam itu bersamaku Dari aku yang mencintaimu.

ILUSI

S ebaik baiknya perpisahan selalu meninggalkan alasan. Dan sebaik baiknya kepergian   adalah tidak pernah di lakukan. . . Aku sedang berdiskusi bersama waktu di malam ini. Aku bertanya bagaimana seharusnya aku menyikapi? Bagaimana menyatukan kehendak hati dan kenyataan yang begitu teramat menyakiti? Namun yang   terdengar hanya sunyi… penapilanku   stiap bangun tidur benar-benar hancur, Tatapan blur, wajah lebam dipenuhi   bilur, kesakitan dari dalam mulai menguasai alur, dan ruhku,   memberontak seakan ingin kabur… Aku ingin hilang ingatan.   Aku lelah berpura-pura tidak merasakan, Aku ingin kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kenyataan. Namun semakin aku meneriakan aku semakin tenggelam di dalam penderitaan. Kemana perginya malaikat??? Di dalam jiwaku terlihat iblis tertawa bahagia menyayat-nyayat untuk segera menjadikan ku   mayat. Tuhan,….. Mengapa kenyataan ini begitu menyengat?? Mengapa beban ini begitu hebat? ...